Ulangan 6:1-3
Setiap kita sudah terbiasa mendengar istilah "takut akan Allah", tetapi ada yang memahaminya dengan berpikir "Allah itu menakutkan" akan murka kalau kita bersalah pada-Nya, tentu pandangan itu keliru, sebab Allah itu adalah Tuhan yang baik, panjang sabar, penuh kasih dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Kalau begitu apa arti takut akan Allah dan mengapa setiap orang percaya harus hidup takut akan Allah... ? Allah sendiri yang mengajarkan agar kita takut akan Dia, la adalah Allah yang baik karena itu diajari-Nya kita demi kebaikan dan untuk kepentingan kita. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi umat yang tidak taat apa lagi berani mempermainkan-Nya, Memang Allah itu panjang sabar tetapi bukan berarti membiarkan kita berontak kepada-Nya, la menghendaki agar kita hidup takut dan mengasihi Dia.
Lukas 2:8-14
Kelahiran Kristus adalah berita sukacita yang besar diseluruh bumi, karena la lahir untuk memberikan damai sejahtera bagi orang percaya. Nabi Yesaya bernubuat, "Nama-Nya akan disebut Penasehat yang ajaib, Bapa yang kekal, Raja Damai", Yesus adalah Raja Damai. Persoalannya ada sebagian yang berpikir kalau Yesus adalah Raja Damai mengapa disana-sini masih banyak terjadi peperangan, penganiayaan, orang-orang tertekan dan masalah di bumi tidak selesai-selesai.., bukankah Yesus datang sebagai Sang Damai yang berkuasa mengatur dan membuat bumi menjadi damai..? Ingat...! Alkitab tidak pernah bernubuat bahwa Yesus akan mengatur seluruh dunia dalam kedamaian, karena kedamaian yang sejati akan kita nikmati ketika kita sudah berada di Sorga. Jika bicara damai di bumi adalah hal yang berbeda dengan damai di Sorga karena di Sorga adalah damai sejahtera dalam kesempurnaan artinya setelah kita berada di Sorga semuanya sempurna, di Sorga tidak ada penderitaan lagi, tidak ada ketakutan, semua serba sempurna. Sementara damai sejahtera Kristus di bumi itu hanya dapat dialami dan dinikmati oleh orang yang hidup sungguh-sungguh di dalam Dia bukan semua orang di bumi ini, dan damai sejahtera itu kita nikmati bukan karena tidak menghadapi masalah, tidak ada kesukaran hidup, tidak mengalami cobaan, tetapi kita damai karena Allah telah menyatakan serta menyempurnakan damai sejahtera-Nya atas kita di dalam Yesus Kristus.
Lukas 2:8-20
Dalam pembacaan ini dikisahkan, malaikat menjumpai gembala-gembala dan memberitahukan kepada mereka tentang kelahiran Yesus. Para gembalapun segera pergi ke Betlehem, di sana mereka menjumpai bayi itu tepat seperti yang disampaikan olah Malaikat. Jadi apa yang mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Disinilah letak persoalan kekristenan kita hari-hari ini, kita mendengar Firman Tuhan, kita terima janji-janji Tuhan, kita membaca Alkitab, tetapi kadangkala apa yang telah kita dengar, yang kita lihat, dan yang kita baca berbeda dengan apa yang kita terima. Contoh, seseorang berdoa untuk kesembuhannya tetapi tidak kunjung sembuh juga, ada yang berdoa untuk diberkati tetapi belum juga memperoleh berkat, pada hal di sisi lain, Tuhan sendiri yang berjanji: "mintalah maka akan diberi". Jadi fakta yang dialami berbeda dengan apa yang dilihat dan didengar, hal ini terjadi pasti ada sesuatu yang keliru dalam hidup kita, sebab Natal itu sendiri merupakan jaminan bahwa Allah pasti memberikan semuanya bagi kita.
Lukas 2-:8-20
Natal tidak bisa dipisahkan dari kemuliaan Allah. Karena natal berbicara tentang Allah yang mulia telah meninggalkan kemuliaan-Nya untuk menjumpai manusia yang hina, supaya manusia turut dimuliakan bersama-sama dengan Dia. Pada mulanya manusia diciptakan dalam kemuliaan Allah, tetapi dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma. 3: 23), bahkan akibat dosa manusia dibuang dan mulai hidup dalam penderitaan. Itulah sebabnya pada peristiwa natal, dimana AllalTyang mulia itu telah turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia yang hina, dan di dalam kehinaan-Nya Dia mengangkat kita kembali kepada kemuliaan-Nya. Semuanya dilakukan Allah karena kasih-Nya yang sempurna pada kita. Ini berarti peristiwa natal adalah keputusan yang beresiko yang telah diambil Allah demi dan untuk kebaikan kita.
Kekristenan hidup berjalan dalam kemuliaan Allah, sekaligus akan memancarkan kemuliaan Allah itu bagi setiap orang, ini merupakan pengalaman hidup yang tidak pernah di alami oleh orang-orang di luar Kristus.
Ratapan 3:21-50; Lukas 19:41-44
Di dalam terjemahan lama kitab Ratapan disebut kitab Nudub Yeremia, yang artinya jentan atau tangisan nabi Yeremia. Selama empat puluh tahun sebelum masa pembuangan ke Babel Yeremia melayani dengan air mata. Setiap waktu ia berseru memperiiigatkan bangsa Israel, namun mereka tetap tidak mau bertobat yang akhirnya membuat Tuhan membuang mereka ke Babel. Jadi kitab mi sesungguhnya mencatat tentang ratapan-ratapan nabi Yeremia dan hal ini merupakan gambaran dan Tuhan yang menangisi umat-Nya. Adapun pelajaran penting dalam kitab ini dimana Knstus memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan yang menangis. .
Bicara tentang Tuhan menangis sepertinya suatu hal yang mustahil tetapi jika kita pelajaran dalam Perjanjian Baru maka kita jumpai Yesus beberapa kali menangis, diantaranya la menangis di depan kuburan Lazarus, Yesus juga menangisi kota Yerusalem. Tentu dalam hal ini alasan Tuhan menangis berbeda dengan hal yang menyebabkan manusia menangis. .
2 Timotius 2:8-13
Allah adalah Tuhan yang setia, sekalipun kita tidak setia Dia tetap setia. Tidak jarang hal ini dijadikan alasan oleh orang tertentu untuk jatuh bangun dalam dosa, karena mereka berpikir walaupun mereka jatuh dalam dosa, Allah tetap setia dan akan mengampuni. Tentu sikap .hidup seperti ini tidak bisa dibenarkan. Memang Allah tetap setia, tetapi bukan berarti menjadi alasan untuk kita hidup tidak benar (tetap dalam dosa). Kalau demikian apa makna dibalik ungkapan, "jika kita tidak setia, Dia tetap setia". Rasul Paulus hendak menjelaskan kepada kita, bahwa walaupun kesetiaan kita belum mencapai kesempumaan tetapi jika kita terus berjuang maka Tuhanlah yang akan menyempurnakan kesetiaan kita. Jadi, artinya kita harus memenuhi standar dasarnya terlebih dahulu yaitu terus berjuang untuk menjadi seorang yang setia, untuk menjadi seorang yang benar, untuk selanjutnya Tuhanlah yang bertindak menyempurnakan kesetiaan dan kebenaran kita, inilah yang disebut Tuhan tetap setia.
Salah satu persoalan serius dalam Kekristenan hari-hari ini adalah, orang-orang yang selalu merasa dirinya benar serta suka menghakimi orang lain, hal ini disebabkan karena tidak memahami Firman Tuhan dengan benar. Oleh karena merasa diri benar, ketika melihat orang lain yang berbeda dengan dirinya dianggap salah. Jadi, tidaklah mengherankan jika ada orang yang telah bertobat tapi hidupnya tidak jadi berkat..., bahkan sebaliknya sering jadi sandungan dan momok yang menakutkan karena menjadikan dirinya hakim atas orang lain. Setiap orang dikritiknya, disalahkannya, dan dianggap keliru lalu diancam dengan berkata; "kalau tidak berubah..., akan dihukum/dikutuk Tuhan".

Minggu, 16 Januari 2011